satu per empat
Seperempat abad, kesempatan yang telah kudapat untuk
menghirup udara di dunia, melihat sekeliling rupa, menyesapi sekelumit rasa,
melalui beragam realita hingga berharap pada setumpukan asa. Waktu dimana aku
pernah merasa menjadi yang paling bahagia dan menjadi yang paling berduka
hingga putus asa.
Banyak yang sudah ku lihat, mulai dari kelahiran, kehidupan
sampai kematian namun masih sangat dangkal apa yang ku tahu karena selama ini
aku hanya melihat bukan mengalaminya. Dari apa yang sudah ku lihat membuat aku
tersadar betapa kurangnya aku bersyukur atas segala nikmat yang telah ku dapat,
dari apa yang ku rasakan betapa bodohnya aku telah merasa menjadi yang paling
menderita sedangkan di luar sana banyak yang susah namun tak pernah berkeluh kesah.
Satu yang selalu kuingat, kematian itu dekat, hampir tak bersekat, untuk itulah
semua yang bernyawa harus selalu siap.
Mungkin tak banyak orang tahu, seberapa sering aku menangis
ditengah sunyinya malam. Mungkin tak banyak orang yang sadar, seberapa sering
aku menyembunyikan duka yang mendalam dibalik lengkung senyuman. Mungkin tak
banyak orang yang mengerti, maksud dari segala ungkapan kata yang ku lontarkan
karena kebanyakan mereka hanya mendengar tanpa memahami apa yang sebenarnya
ingin aku sampaikan.
Aku, dengan segala misteri yang ku punya.
Aku, dengan segala cerita yang ingin ku nikmati sendiri.
Aku, yang terkadang tak memahami pula maksud hati ini.
Ternyata sudah selama ini aku bernapas, sudah selama ini ku
menikmati rasa malas.
Ternyata sudah selama ini aku menatap, sudah selama ini jiwaku
menetap.
Ternyata sudah selama ini aku mendengar, sudah selama ini ku
nikmati hingar-bingar.
Namun rasanya masih ada saja yang kurang, entah hilang atau
memang ada renggang.
Rasanya masih banyak yang ingin ku cari, berlari dan
menemukannya sendiri.
Rasanya masih banyak yang ingin ku ketahui, bertanya dan
memahaminya sendiri.
Rasanya masih banyak yang ingin ku nikmati, ampunilah
ciptaan-Mu yang tak bersyukur ini.
Di satu per empat abad usia yang ku dapat, rasanya sudah tak
pantas aku meminta. Sudah terlalu banyak yang aku terima, sungguh berlebihan aku
hidup dengan penuh karunia. Sudah saatnya aku memberi, sudah saatnya aku
berbagi, sudah saatnya aku tak selalu merengek lagi. Namun jika memang bisa ku
sisipkan dua do’a yang bisa dikabulkan, tolong berilah celah pada dua do’a itu.
Pertama, sehatkan aku agar aku bisa selalu berguna dan
bermanfaat untuk sebanyak-banyaknya jiwa yang membutuhkan ku.
Kedua, sehatkan semua orang baik yang menyayangiku agar aku selalu
dapat menikmati energi dari setiap lengkung senyuman mereka.
Cukup itu saja, itupun sekiranya sudah sangat berlebihan
untuk dikabulkan.
Aku hanya ingin hidup damai, berdamai dengan hati bersahabat
dengan jiwa.
Aku hanya ingin hidup sebagaimana mestinya, saling berguna
dan mendo’akan sesama.
Aku hanya ingin menghidupi hidup, guna mengisi waktu ini dan
mempersiapkan bekal untuk nanti.
Komentar
Posting Komentar